Friday, August 03, 2007

Tarbiyah Penting Bagi Mendidik Mmanusia

Tarbiyah merupakan satu pendekatan sepadu, bagi mendidik jiwa manusia ke arah cara hidup yang lebih praktis dengan pengamalan Islam yang sering diabaikan oleh banyak pihak, lebih-lebih lagi untuk menghubungkan manusia dengan Maha Pencipta, ia juga bermatlamat untuk melahirkan manusia yang sanggup berkorban bagi memperkasa agama
Para ulama telah membahagikan konsep tarbiyyah kepada beberapa bahagian :

*Tarbiyah Ruhiyyah/Nafsiyyah (Pendidikan Kerohanian/Kejiwaan)
*Tarbiyah Jasmiyyah (Pendidikan Fizikal)
*Tarbiyah Imaniyyah ( Pendidikan Keimanan)
*Tarbiyah Aqliyyah (Pendidikan Mental)
*Tarbiyah Akhlaqiyyah (Pendidikan Akhlak)
*Tarbiyah Fikriyyah (Pendidikan Ketajaman Cara Berfikir)
*Tarbiyah Iqtisadiyyah (Pendidikan Kemantapan Ekonomi)
*Tarbiyah Siasiyyah ( Pendidikan Memperkasa Politik) dan lain-lain.

Apa yang hendak difokuskan di sini adalah Tarbiyah Jiwa manusia agar lebih baik dari sebelum ini, kalau pun sudah baik, ia akan diarah untuk menuju yang lebih baik, ia satu pendekatan kebaikan yang diterima di sisi Allah dan dinilainya sebagai benar-benar baik, kerana manusia hari ini, melihat sesuatu yang baik itu berdasarkan pandangannya semata-mata, kadang-kadang dilihatnya baik, tetapi bagi Allah ia bukan perkara baik.

Begitulah sebaliknya, kadang-kadang manusia melihatnya tidak baik, tetapi bagi Allah baik, sebagai contoh, ada seorang yang suka membantu orang lain, tetapi pada masa yang sama, dia mengingkari perintah Allah sebagai menafikan hukum hudud dan sebagainya, apakah Islam masih melihat orang seumpama ini sebagai orang baik, maka perlu kepada satu kayu pengukur untuk meletakkan amalan seseorang itu diterima di sisi Allah SWT.

Kaedah Tarbiyah Jiwa yang berkesan buat setiap Muslim :

1- Melakukan ibadat secara bersungguh-sungguh, menghubung diri kepada Allah serta menyerahkan diri kepada-Nya dengan rasa kerdil di hadapan-Nya, menerusi pelaksanaan amalan wajib dan meninggalkan egala larangan-Nya.

2- Memperbanyak dan membudayakan pembacaan al-Quran, merenung setiap susunan kata-katanya dan berfikir terhadap rahsia kejadian alam dan sebagainya.

3- Memperbanyak membaca dan mentelaah kitab-kitan agama berunsur nasihat, bimbingan, kaunseling lebih-lebih lagi yang memperkata masalah hati, penyakit dan rawatannya.

4- Rajin untuk hadir majlis-majlis ilmu, ceramah dan forum agama yang boleh membangkitkan kesedaran diri untuk melakukan taubat kepada Allah.

5- Mampu untuk menjaga waktu dengan baik dengan perkara-perkara yang berfaedah tanpa mensia-siakannya.

6- Mesti yakin pada diri untuk berhubung dengan Allah.

7- Bergaul dengan golongan yang baik-baik, terutamanya para ulama yang boleh menunjukkan jalan kebenaran, kesabaran dan sentiasa menyeru kepada perkara yang makruf dan mencegah dari melakukan perkara yang mungkar.

8- Beramal serta menterjemahkan segala ilmu yang diperolehi secara praktikal.

9- Bermuhasabah diri terhadap perkara yang telah dilakukan, sama ada ia baik di sisi Allah atau sebaliknya.

10- Menghina diri di hadapan Allah akan segala kesalahan, keterlanjuran sama ada berupa dosa kecil apatah lagi dosa besar dan bersegera untuk memohon keampunan daripada-Nya.

11- Mengelakkan diri dari bergaul dengan manusia yang mengajak kepada perkara yang melalaikan, malah berusaha bersungguh-sungguh untuk meningkatkan kualiti amal ibadat kepada Allah SWT.

12- Bersabar terhadap karenah manusia tanpa jemu menyeru mereka untuk berpegang kepada Islam dalam apa jua keadaan, kerana ini adalah sebaik-baik tindakan yang perlu ada dalam setiap diri orang Islam.

Semoga Allah SWT memberi kekuatan kepada kita semua agar mampu melakukan apa yang disarankan seperti yang tersebut di atas, bagi menghadapi sisa-sisa hidup dalam melakukan perkara-perkara yang diredai oleh-Nya, Amin.

Agenda harian ‘Tarbiyah Ruhiyyah’

Dalam masa umat Islam sibuk dengan urusan dunia, yang sebahagiannya menyibukkan seseorang itu dari tunduk beribadat kepada Allah SWT, terdapat jenis manusia yang alpa dari berzikir kepada-Nya.

Zikir bukan mesti melalui cara yang formal dengan memegang biji tasbih, malah dalam keadaan berjalan, berdiri, duduk atau berbaring, ia boleh dilakukan dengan penuh rasa minat dan bertanggungjawab kepada-Nya. Dalam kesempatan yang terbatas ini, marilah kita perhatikan konsep ‘Tarbiyah Ruhiyyah’ atau pendidikan jiwa untuk mengisi kekosongan hati kita dengan mengingati Allah SWT.

1- Memelihara solat-solat fardu secara berjemaah di masjid-masjid atau surau-surau dengan penuh kesungguhan, kerana solat adalah perkara pertama yang akan ditanya oleh Allah di akhirat.

2- Memelihara amalan-amalan sunnat qabliyyah dan ba’diyyah.
3- Memelihara wirid dan zikir selepas solat serta zikir-zikir pagi dan petang seperti Ma’thurat.
4- Sentiasa mengucapkan lafaz istighfar iaitu “Astaghfirullah” sebanyak mungkin sebagai pengakuan melakukan kesalahan terhadap Allah.

5- Sentiasa membudayakan pembacaan al-Quran serta merenung dan bertadabbur (memerhati) isi-isi kandungannya.

6- Memelihara dan konsisten walau dua rakaat sunat solat qiyamullail.

7- Menghalakan pengharapan dan ketundukan sebenar hanya kepada Allah SWT.

8- Bersedekah secara sembunyi bagi mengelak diri daripada ditimpa bala Allah.

9- Memelihara kelas-kelas pengajian ilmu agama bagi menghidupkan minda dan roh yang sudah lama mati dan beku.

10- Berusaha untuk berkhidmat kepada orang Islam yang boleh merapat dan memperkasakan persaudaraan sesama muslim.

Amalkan cadangan agenda di atas, insya-Allah anda akan menemui sesuatu yang baru dalam hidup anda sebagai muslim yang benar-benar komited dengan Islam.

Sunday, July 15, 2007

Perana Kaum Wanita

Dikisahkan, seorang wanita datang menghadap Baginda Rasulullah SAW dan berkata, ''Wahai Rasulullah, saya mewakili kaum wanita ingin bertanya kepadamu. Mengapa berperang itu hanya Allah wajibkan atas kaum laki-laki? Jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala, dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah, lagi dicukupkan rezekinya.''

Setelah berhenti sejenak, wanita itu lalu melanjutkan, ''Sedangkan kami, kaum wanita, selalu hanya melakukan kewajiban terhadap mereka (suami). Apakah kami boleh ikut (perang) agar memperoleh pahala berperang?'' Mendengar pengaduan wanita itu, Rasulullah SAW pun bersabda, ''Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran dan keihklasan, maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi, amat sedikit dari kamu yang menjalankannya.''

Kisah di atas menggambarkan bahwa adanya perbedaan peranan antara laki-laki dan perempuan merupakan sunatullah. Perbedaan tersebut, dalam pandangan Islam, bukanlah untuk melecehkan atau merendahkan antara keduanya, melainkan untuk saling membantu, mengisi, dan memuliakan. Islam mengajarkan bahwa antara laki-laki dan perempuan adalah setara, dan yang membedakan antara keduanya hanyalah ketakwaan-Nya. Bahkan, Allah akan memberikan pahala yang sama jika mereka beriman dan mengerjakan amal saleh.

Allah SWT berjanji dalam firman-Nya, ''Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.'' (QS 16: 97). Inilah hakikat sebenarnya emansipasi dalam pandangan Islam. Emansipasi yang tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga mengandung nilai ukhrawi. Emansipasi yang tidak memandang perbedaan peranan sebagai penghalang dan harus disamakan. Melainkan, emansipasi yang memandang adanya perbedaan peranan sebagai sebuah kekuatan untuk saling melengkapi dan membangun kesinergian menuju kemuliaan bersama.

Dalam kaitan ini, Danielle Crittenden, penulis buku Wanita Salah Langkah? Menggugat Mitos-mitos Kebebasan Wanita Modern, menilai, emansipasi yang diusung kaum feminis modern telah salah langkah. Ia berpendapat emansipasi yang diinginkan kaum wanita modern telah mencampakkan para wanita dari panggung kehidupan sebenarnya, yaitu kebersamaan, saling menghormati posisi dan fungsi masing-masing, saling berbagi, saling perhatian dan mencintai antara suami, istri, dan anak. Karenanya, sebaiknya kita, khususnya para wanita, menyadari bahwa jihad terbesar adalah dalam keluarga. Yakni, bagaimana kita dapat menjadi ibu yang baik dan bermanfaat bagi anak-anak serta menjadi istri yang salehah bagi suami. Selain itu, kita pun harus menjadi pelopor kebaikan dalam keluarga dan masyarakat. Sebaliknya, kita pun berharap para suami pun berbuat serupa. Wallahu a'lam bis-shawab.

(Sumber: Republika Online)