Sunday, July 15, 2007

Perana Kaum Wanita

Dikisahkan, seorang wanita datang menghadap Baginda Rasulullah SAW dan berkata, ''Wahai Rasulullah, saya mewakili kaum wanita ingin bertanya kepadamu. Mengapa berperang itu hanya Allah wajibkan atas kaum laki-laki? Jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala, dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah, lagi dicukupkan rezekinya.''

Setelah berhenti sejenak, wanita itu lalu melanjutkan, ''Sedangkan kami, kaum wanita, selalu hanya melakukan kewajiban terhadap mereka (suami). Apakah kami boleh ikut (perang) agar memperoleh pahala berperang?'' Mendengar pengaduan wanita itu, Rasulullah SAW pun bersabda, ''Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran dan keihklasan, maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi, amat sedikit dari kamu yang menjalankannya.''

Kisah di atas menggambarkan bahwa adanya perbedaan peranan antara laki-laki dan perempuan merupakan sunatullah. Perbedaan tersebut, dalam pandangan Islam, bukanlah untuk melecehkan atau merendahkan antara keduanya, melainkan untuk saling membantu, mengisi, dan memuliakan. Islam mengajarkan bahwa antara laki-laki dan perempuan adalah setara, dan yang membedakan antara keduanya hanyalah ketakwaan-Nya. Bahkan, Allah akan memberikan pahala yang sama jika mereka beriman dan mengerjakan amal saleh.

Allah SWT berjanji dalam firman-Nya, ''Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.'' (QS 16: 97). Inilah hakikat sebenarnya emansipasi dalam pandangan Islam. Emansipasi yang tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga mengandung nilai ukhrawi. Emansipasi yang tidak memandang perbedaan peranan sebagai penghalang dan harus disamakan. Melainkan, emansipasi yang memandang adanya perbedaan peranan sebagai sebuah kekuatan untuk saling melengkapi dan membangun kesinergian menuju kemuliaan bersama.

Dalam kaitan ini, Danielle Crittenden, penulis buku Wanita Salah Langkah? Menggugat Mitos-mitos Kebebasan Wanita Modern, menilai, emansipasi yang diusung kaum feminis modern telah salah langkah. Ia berpendapat emansipasi yang diinginkan kaum wanita modern telah mencampakkan para wanita dari panggung kehidupan sebenarnya, yaitu kebersamaan, saling menghormati posisi dan fungsi masing-masing, saling berbagi, saling perhatian dan mencintai antara suami, istri, dan anak. Karenanya, sebaiknya kita, khususnya para wanita, menyadari bahwa jihad terbesar adalah dalam keluarga. Yakni, bagaimana kita dapat menjadi ibu yang baik dan bermanfaat bagi anak-anak serta menjadi istri yang salehah bagi suami. Selain itu, kita pun harus menjadi pelopor kebaikan dalam keluarga dan masyarakat. Sebaliknya, kita pun berharap para suami pun berbuat serupa. Wallahu a'lam bis-shawab.

(Sumber: Republika Online)

Friday, June 15, 2007

Hargailah Pengorbanan Ayah....

Jika bulan Mei yang lalu kita menyambut Hari Ibu, InsyaAllah pada bulan Jun pula adalah bulan untuk kita meraikan Hari Bapa pula. Melihat kepada kedua-dua hari ini jasa dan pengorbanan mereka memang patut diraikan.

Ayah, abi, walid, baba, abah, daddy, dan pelbagai lagi bentuk panggilan yang tidak asing lagi bagi mereka yang bergelar bapa. Bapa sebagai ketua keluarga,yang mempunyai tanggungjawab yang besar. Dia yang menanggung nafkah ahli keluarga dan yang memastikan keselamatan mereka terjamin..Memang wajar kita meraikan para bapa pada sepanjang masa. Dari segi realitinya, halangan masa dan geografi menyebabkan sesuatu perkara itu sukar untuk direalisasikan.

Sebagai anak-anak, raikanlah mereka sementara mereka masih ada. Raikan mereka dengan cara tersendiri. Yang dekat, luangkan masa bersama mereka manakala yang tidak dapat bersama mereka hubungilah mereka sebagai tanda yang walaupun jauh di mata tetapi sentiasa di hati.

Bagi golongan muda yang telah bergelar bapa mungkin Hari Bapa ini sesuai untuk mereka ini muhasabah diri. Tanya diri sejauh mana amanah yang diberikan mampu dilaksanakan seperti yang dituntut dan disyara’kan oleh islam.

Memberi nafkah adalah tugas utama seorang bapa. Ia bukanlah satu-satunya tanggungjawab seorang bapa saja malah mendidik anak-anak juga adalah tanggungjawab bapa dan bukanlah dibahu ibu semata-mata.ini jelas dibuktikan di dalam al-Quran.

Kisah mengenai bapa dengan anak yang disampaikan melalui al-Quran adalah cara Allah swt memberitahu kita tentang tuntutan islam. Di dalam Surah Luqman mengisahkan bagaimana seorang bapa yang bijaksana memberi didikan agama dan akhlak kepada anaknya. Menerusi ayat 13 hingga 19, Luqman menasihati anaknya agar tidak mempersetukukan Allah, berbuat baik dengan ibu bapa, tidak mentaati mereka dalam perkara-perkara mungkar tetapi tetap bergaul baik dengan mereka. Seterusnya ada juga disebutkan bahawa setiap perbuatan adalah di dalam pengetahuan Allah, mendirikan solat, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, bersabar degan segala musibah yang menimpa, menjauhi diri dari sifat sombong dan bersederhana dalam segala hal.

Selain itujuga telah disebut di dalam Surah Hud menerusi ayat 42 hingga 45 diceritakan mengenai kisah Nabi Nuh yang mengajak anaknya menaiki bahtera. Malangnya anaknya angkuh dan enggan mengikut ayahnya. Namun, kasih sayang seorang ayah Nabi Nuh telah membuat percubaan terakhir untuk menyelamatkan anaknya dari seksaan azab Allah.baginda terus berdoa kepada Allah agar menyelamatkan anaknya. Tetapi takdir telah menentukan anak Nabi Nuh bukanlah ahlinya.

Menerusi ayat 102 Surah Al-Shaaffat, kisah nabi Ibrahim dan anaknya yang menunjukkan betapa beratnya hati seorang bapa mengorbankan anak yang disayangi. Berkata Ibrahim kepada anaknya,” wahai anakku, Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi aku akan menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?” Jawab anaknya, “wahai ayahku, jalankanlah apa yang diperintahkan oleh . insyaallh ayah akan dapati aku dari orang-orang yang sabar”. Kita maklum dengan kesudahan cerita ini. Seorang nabi bertanya pandangan kepada anaknya. Bagaimana dengan kita?

Begitu juga dengan kisah Nabi Yaakub yang berdukacita dengan kematian anaknya, Yusuf menerusi ayat 84 dalan Surah Yusuf sehingga Nabi Yaakub di ceritakan “putih 2 belah matanya disebabkan ratap tangis dukacitanya, kerana ia orang yang memendamkan marahnya dalam hati. Walaupun kecewa dengan kecuaian anak-anaknya yang lain.

Hadith Rasullullah banyak mengajar kita tentang erti kebapaan. Sepertimana hadith yang bermaksud, “ Tiada pemberian yang lebih baik yang boleh di beri oleh seorang ayah kepada anaknya melainkan akhlak yang baik”. Ia mengingatkan kepada kita bahawa dalam materialistic ini, mendidik anak dengan akhlak yang baik adalah lebih bermakna dari pemberian hadiah walau sebesar dan semahal mana sekalipun harganya.

Dalam islam, bapa bukan hanya bertnaggungjawab terhadap nafkah anak-anak tetapi juga sahsiah mereka. Di sinilah pentingnya golongan bapa memberi didikan agama dan akhlak kepada anak-anknya. Tambahan pula, anak soleh yang mendoakan orang-orang tuanya adalah antara amalan terus kekal walaupun mereka telah meninggal dunia.

Semestinya seorang bapa perlu aktif dalam kehidupan anak sebagai satu tuntutan dalam islam. Dengan kehadiran seorang bapa sesungguhnya ia memberi kesan positif dalam pertumbuhan anak-anak mereka. Kajian menunjukan sekiranya seorang bapa terlibat dalam pendidikan anak-anaknya, anak itu lebih cenderung untuk mendapat A. sekiranya dari segi syakhsiah diri, bapa yang mengambil intimam terhadap anaknya, kesan menunjukkan kecenderungan untuk mengambil inisiatif dan mengawal diri sendiri kepada anak-anaknya.

Marilah kita renung bersama betapa besar impak seorang bapa dalam satu institusi kekeluargaan. Tiada seorang bapa pun di dunia ini tidak mahu meneriama doa dari anak soleh dan solehah… mampukah kita balas semua pengorbanan tersebut sekiranya di nilai pada sebuah harga??